
Montessori Parenting dalam Perspektif Islam | Menjadi orang tua adalah tanggung jawab besar yang tidak hanya berkaitan dengan memberi makan, pakaian, dan pendidikan formal, tetapi juga menuntun anak untuk tumbuh sesuai fitrahnya. Dalam parenting modern, banyak pendekatan pengasuhan yang bisa dijadikan inspirasi, salah satunya adalah Montessori parenting.
Montessori parenting merupakan metode yang berfokus pada kemandirian, rasa hormat terhadap anak, dan pembelajaran alami. Di sisi lain, Islam sejak lama telah memiliki prinsip pengasuhan yang sarat nilai spiritual, moral, dan kasih sayang. Menariknya, meski berasal dari latar belakang yang berbeda, kedua pendekatan ini ternyata memiliki banyak kesamaan yang dapat saling melengkapi.
Untuk mengetahui lebih lanjut, simak saja pembahasan yang satu ini.
Kesamaan Nilai Antara Montessori dan Islam
- Menghormati Fitrah Anak sebagai Dasar Pendidikan
Montessori menilai setiap anak sebagai individu yang memiliki potensi unik dan dorongan alami untuk belajar. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah.
Rasulullah bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Fitrah berarti kemurnian bawaan yang harus dijaga agar tidak terdistorsi oleh lingkungan. Anak yang tumbuh dengan penghormatan terhadap fitrahnya akan berkembang menjadi pribadi yang tenang, percaya diri, dan mampu mengenal jati dirinya.
- Menumbuhkan Kemandirian dan Tanggung Jawab Sejak Dini
Kemandirian dalam Montessori bukan berarti membiarkan anak tanpa bimbingan, tetapi memberi kesempatan agar anak belajar melalui pengalaman langsung. Anak diajak untuk mencoba hal-hal kecil seperti mengenakan pakaian, menyiapkan makanan sederhana, atau membereskan mainan sendiri.
Dalam Islam, nilai kemandirian juga ditanamkan sejak dini. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi contoh bagaimana orang tua memberikan kepercayaan kepada anak untuk mengambil keputusan besar dengan dasar iman dan tanggung jawab. Anak yang terbiasa dilibatkan akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih disiplin dan mampu berpikir matang.
- Disiplin Positif dan Keteladanan Orang Tua
Montessori mengajarkan bahwa disiplin harus tumbuh dari kesadaran, bukan karena takut dihukum. Anak belajar memahami batasan melalui pengalaman, bukan ancaman. Prinsip ini sejalan dengan Islam yang menekankan pentingnya kelembutan dalam mendidik.
Rasulullah selalu menunjukkan kasih sayang dalam menghadapi anak-anak, tidak pernah memukul atau membentak. Teladan inilah yang mengajarkan bahwa pendidikan yang efektif lahir dari ketenangan dan contoh nyata, bukan dari tekanan.
Peran Orang Tua dalam Dua Perspektif: Murabbi dan Fasilitator
- Menjadi Pembimbing, Bukan Penguasa
Dalam pendekatan Montessori, orang tua berperan sebagai pengamat dan fasilitator yang mendampingi anak tanpa terlalu banyak intervensi. Tugas orang tua adalah menyiapkan kondisi agar anak dapat belajar secara alami.
Dalam Islam, peran ini dikenal dengan istilah murabbi, yaitu pendidik yang membimbing dan menumbuhkan potensi anak menuju kebaikan dunia dan akhirat. Seorang murabbi berfokus pada proses, bukan hasil instan, karena memahami bahwa pendidikan adalah perjalanan panjang.
- Meneladankan Akhlak dan Ibadah dalam Keseharian
Anak belajar banyak melalui pengamatan. Dalam Montessori, observasi menjadi cara utama anak memahami lingkungannya. Hal yang sama juga terjadi dalam pendidikan Islam, di mana teladan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak.
Ketika anak melihat ayahnya jujur, ibunya sabar, atau keduanya tekun beribadah, nilai-nilai tersebut terserap dalam dirinya tanpa perlu banyak penjelasan. Akhlak orang tua menjadi pelajaran hidup yang tidak tergantikan.
Membangun Lingkungan yang Mendukung Pembelajaran dan Ibadah
- Menyiapkan Ruang yang Ramah Anak dan Bernilai Spiritual
Montessori menekankan pentingnya lingkungan yang rapi, teratur, dan disesuaikan dengan kebutuhan anak. Setiap benda memiliki tempatnya, dan anak diajak untuk merawat serta mengembalikannya setelah digunakan. Konsep ini dapat diterapkan dalam konteks Islami dengan menambahkan nilai ibadah di dalamnya.
Misalnya, menyediakan area kecil untuk shalat lengkap dengan sajadah berukuran anak, rak kecil berisi Al-Qur’an, atau peralatan wudhu yang mudah dijangkau. Lingkungan seperti ini membantu anak belajar menjalankan ibadah dengan semangat dan kesadaran.
- Menanamkan Nilai Kebersihan dan Keteraturan sebagai Iman
Islam sangat menekankan kebersihan, bahkan menjadikannya bagian dari iman. Anak yang dibiasakan hidup tertib dan bersih sejak kecil akan memiliki kesadaran spiritual yang kuat bahwa kebersihan bukan hanya kebiasaan, tetapi juga bentuk ketaatan.
Prinsip Montessori tentang keteraturan membantu anak memahami struktur dan tanggung jawab dalam keseharian, sedangkan nilai-nilai Islam memberi makna spiritual pada kebiasaan tersebut.
Mengintegrasikan Spiritualitas dalam Aktivitas Sehari-hari
- Mengenalkan Doa dan Ibadah Lewat Rutinitas Harian
Nilai-nilai spiritual dapat disisipkan dalam aktivitas sehari-hari tanpa terasa berat. Anak bisa diajak berdoa sebelum dan sesudah makan, sebelum tidur, atau ketika memulai sesuatu.
Hal ini membuat ibadah menjadi bagian alami dari rutinitas, bukan kewajiban yang dipaksakan. Pendekatan seperti ini sesuai dengan prinsip Montessori yang menekankan pembelajaran kontekstual dan pengalaman langsung.
- Mengajarkan Nilai melalui Kisah dan Pengalaman Alam
Anak-anak menyukai cerita, dan kisah para nabi dapat menjadi media pembelajaran moral yang menyenangkan. Melalui kisah Nabi Yusuf, anak bisa belajar tentang kesabaran; melalui kisah Nabi Musa, anak memahami keberanian; sementara kisah Nabi Muhammad SAW mengajarkan kasih sayang dan kejujuran.
Selain itu, pengalaman sederhana seperti melihat hujan turun atau menanam tanaman bisa menjadi sarana untuk mengenalkan kebesaran Allah. Ketika anak diajak merenungi ciptaan-Nya, spiritualitas tumbuh dalam hati secara alami.
Tantangan dan Solusi dalam Menggabungkan Dua Pendekatan
- Menemukan Titik Tengah antara Kebebasan dan Bimbingan
Tidak semua orang tua langsung merasa cocok dengan konsep Montessori, terutama karena dianggap memberi terlalu banyak kebebasan. Sementara itu, pengasuhan Islami sering dipandang terlalu penuh aturan. Agar keduanya dapat berjalan seimbang, orang tua perlu memahami esensinya: Montessori berfungsi sebagai metode pengajaran yang menumbuhkan kemandirian, sedangkan Islam menjadi pedoman moral yang mengarahkan setiap tindakan.
- Menerapkan Montessori Sesuai Syariat Islam
Aktivitas Montessori dapat disesuaikan agar sejalan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya, kegiatan practical life seperti menyiapkan makanan bisa menjadi momen untuk mengajarkan doa dan adab makan. Aktivitas sensorik dapat dikaitkan dengan rasa syukur terhadap ciptaan Allah. Dengan cara ini, anak belajar berpikir, merasa, dan bertindak dalam koridor iman tanpa kehilangan rasa ingin tahunya.
Pendekatan yang seimbang memungkinkan anak tumbuh menjadi individu yang mandiri namun tetap berakar pada nilai-nilai spiritual. Mereka belajar mengambil keputusan dengan bijak, memahami batasan, dan menghormati orang lain tanpa kehilangan kepribadian.
Menyatukan Kemandirian dan Ketulusan Iman
Montessori parenting dan parenting Islami sesungguhnya memiliki semangat yang sama, yaitu menghormati fitrah anak dan mendidik dengan cinta. Montessori memberikan ruang bagi anak untuk berkembang secara alami, sedangkan Islam menuntun arah agar perkembangan itu berjalan dalam cahaya nilai-nilai ilahiah.
Ketika keduanya berpadu, anak tidak hanya tumbuh cerdas dan mandiri, tetapi juga berkarakter, beriman, dan berakhlak mulia. Inilah bentuk pengasuhan yang selaras dengan fitrah manusia yaitu menggabungkan kebijaksanaan praktis dengan nilai spiritual yang mendalam.
Konsultasikan Pengasuhan Anak Bersama Samawa Consulting
Setiap anak memiliki cara belajar dan tumbuh yang berbeda. Bagi orang tua yang ingin menerapkan pola asuh berbasis nilai Islam dan prinsip Montessori secara tepat, bimbingan dari konsultan berpengalaman bisa menjadi langkah awal yang bijak.
Samawa Consulting hadir untuk membantu memahami kebutuhan unik setiap keluarga dan memberikan pendampingan yang sesuai dengan karakter anak.
Untuk konsultasi lebih lanjut tentang pengasuhan Islami dan pendekatan Montessori, hubungi Samawa Consulting melalui WhatsApp atau telepon. Dapatkan pendampingan yang menenangkan, berbasis ilmu, dan penuh kasih agar perjalanan menjadi orang tua terasa lebih bermakna dan terarah.
Yuk #BangunRumahTanggaDenganIlmu





